Maradona Diingat selaku "Fans Nomor Satu Rakyat Palestina"

Maradona Diingat selaku “Fans Nomor Satu Rakyat Palestina”

DUNIA

Maradona Diingat selaku “Fans Nomor Satu Rakyat Palestina”, Masyarakat Timur tengah turut bersedih atas kematian legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, yang diingat selaku simpatisan setia perjuangan Palestina. Maradona wafat sebab penyakit serangan jantung di tempat tinggalnya di Tigre, Argentina pada Rabu waktu dalam proses pengobatan dari operasi otak untuk hilangkan gumpalan darah. Maradona disanjung selaku seorang sosialis sayap kiri yang anti-imperialis yang sudah memberikan dukungan beberapa gerakan progresif dan memberikan dukungan Palestina.

Ia awalnya memvisualisasikan dianya selaku “fans nomor satu rakyat Palestina” dan pada 2014 sepanjang gempuran Israel di Lajur Gaza yang tewaskan lebih dari 2.200 masyarakat Palestina, ia memvisualisasikan pemboman itu selaku hal “malu-maluin” sambil mengekspresikan amarah atas gempuran itu.

Pada 2018 di Moskow, Maradona berjumpa dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan sampaikan perkataan yang populer sekalian merengkuh Abbas: “Dalam hati, saya ialah orang Palestina”. Bekas bintang Barcelona, Napoli dan Boca Juniors ini sudah cetak 34 gol, saat sebelum pensiun dari laga sepak bola pada 1997 waktu berumur 37 tahun. Gol Internasionalnya yang terpopuler selanjutnya diketahui selaku “Tangan Tuhan”, sesudah ia cetak gol menantang Inggris dengan memukul bola menggunakan tangannya di Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Pada 2015, Maradona disampaikan sedang dalam perundingan dengan Federasi Sepakbola Palestina untuk latih tim nasional Palestina sepanjang Piala Asia AFC. Bekas pelatih tim nasional sepak bola Palestina, Jamal Mahmoud bagikan photo tatap muka terakhir kalinya dengan bintang yang dikasih jersey team sepak bola Palestina itu.

“Orang terhebat yang pernah melipur dunia dengan sepak bola sudah tanpa. Diego terima jersey timnas sepak bola Palestina di acara lama di mana saya berjumpa dengannya,” tulisnya Twitter, diambil dari Middle East Eye, Jumat (27/11). Jubir Hamas Sami Abu Zuhri, sampaikan berkabung ke keluarga Maradona dan fansnya di penjuru dunia. “Kami benar-benar berduka atas kematian salah satunya pemain sepak bola terbaik, Maradona yang diketahui atas suportnya pada #Palestina,” tulisnya.

Pada 1986, sesudah final Piala Dunia, penyair Palestina, Mahmoud Darwish membuat artikel mengenai Maradona. Dalam artikel itu, Darwis mengulas mengenai periode kecil Maradona yang malang, kesenangannya pada sepakbola, dan pengorbanan ayahnya, menyebutkan Maradona selaku seorang yang “tidak akan kalian dapatkan darah dalam nadinya, terkecuali peluru”.

Duka di Suriah dan UEA

Di kota Binnish, Propinsi Idlib, Suriah, seniman Aziz Asmar memberikan penghormatan dengan membuat mural untuk Maradona. Diego┬ásempat juga memberi komentar peranan AS dalam perang sipil Suriah. “Kalian tidak perlu kuliah untuk tahu AS pengin meniadakan keberadaan Suriah,” katanya dalam satu interviu.

Pada 2011, Maradona membuat keceriaan di negara Teluk Uni Emirat Arab (UEA) sesudah tanda-tangani persetujuan untuk mengurus Al-Wasl, bawa club UEA itu ke pentas internasional dan jadi fokus perhatian yang tidak pernah berlangsung awalnya untuk sepak bola Asia.

Tetapi, euforia itu tidak berjalan lama dan sesudah bekerja 14 bulan, Maradona dikeluarkan pada Juli 2012 dengan Al-Wasl akhiri musim mereka di rangking ke delapan.

Bekas pemain internasional Argentina dan pelatih di UEA, Gabriel Calderon menjelaskan Maradona mempunyai banyak masa lalu cantik waktu di UEA. “Dan saya ketahui beberapa fans di situ menyukainya,” katanya.

Saat itu, beberapa orang memberi penghormatan ke legenda sepak bola itu dengan ingat kembali lagi kunjungannya ke Tunisia di tahun 2015 di mana dia berjumpa dengan Ali Bennaceur sebagai wasit laga di antara Argentina dan Inggris, dan menghadiahinya satu kaos tertulis “untuk rekan abadiku Ali”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *